204592.jpg

Jika meramu dosa dan kilah adalah ahliku, maka biarlah ini jadi satu dari satu dua kejujuran yang kuutarakan sebagai tanda untuk tidak lagi berlari dari kemunafikan. Untukmu, Rosalyne-Kruzchka Lohefalter.

. . .

Tawanya begitu hangat. Nyaman sekali melihat mereka yang tinggal dekat dengan dekap. Hari ini, adalah dua hari terakhir sebelum ia pergi ke Negara Abadi. Hal mudah, nanti juga akan kembali. Ditatap satu-persatu teman yang selama ini berbagi cerita, bahkan sepiring kue dan seteko teh hangat dengannya.

Jemarinya merengkuh erat cangkir teh di pangkuan. Menghirup wanginya yang menenangkan. Rostam, andai kamu masih ada di sini, bolehkah aku membagi cangkir ini bersama di bawah rembulan? Ia menggeleng. Hari ini harus diisi dengan senyuman, pikirnya. Tak ingin mengisi kepala dengan kalut yang mengacaukan rencana.

“Rosalyne!” Suara itu sedikit memekakkan telinga, membuyarkan lamunannya. Membuat ia sedikit memiringkan kepala, menghadap pada ia yang memanggilnya. “Jangan kelihatan banyak pikiran begitu.” Suara itu kembali lembut.

“Jangan ganggu dia, Columbina.”

Terdengar sedikit hela napas yang agak berat. Kemudian kembali melempar bantal pada Sandrone. Yang di mana, membuat pemilik nama terpanggil sedikit tertawa, pelan.

Usai semua tawa dan canda, kembalilah ia ke ruang miliknya. Menakar tiap-tiap rupa yang ia tatap di bingkai lama. Dosakah ia jika tetap hidup di bawah amarah atas seorang Dewa? Menyalahkannya di tiap-tiap kalimat atas semua yang terjadi padanya? Namun sekali lagi, ia menepis. Menganggap semua yang t’lah lewat memang salah dari seorang Dewa.

. . .

Di perjalanan, merapal ia nama kasihnya. Rostam, dunia sekarang sudah banyak berubah. Kamu lihat dari sana, kan? Dulu, kita punya mimpi untuk pergi bersama, menonton kembang api di Inazuma, melangkah di bawah langit abu Sumeru, kamu tahu? Hutan hujan kala mendung indah sekali, di beberapa tempat. Juga, makan makanan hangat di Snezhnaya, rasanya enak sekali. Kamu juga harus coba lain kali, ya.

Ah.

Tatap kaburnya meluruhkan bayangan atas inginnya. Sayangnya, tak akan ada lain kali. Tak ingin ia berlama dalam angan sesaat miliknya. Atensi itu kembali pada langit Inazuma yang selalu terlihat seperti senja tanpa sudah. Tanpa tahu bahwa senja itu akan menjadi saksi dari akhir penantiannya.

. . .

Setelah pedang itu terhunus, setelah amarah yang selama ini tak pernah sampai atas ego yang ingin membalas. Api itu akhirnya benar-benar membakar jiwa. Ia tidak tahu. Dalam hatinya, ini keinginan terbesar ataukah ia hanya ingin kesempatan lain untuk meniti hidup bersama.

Pulang. Pulanglah engkau ke rumah, Rosalyne.

Hingga ia sadar.

Pada akhir kisahnya. Ia akan tetap pulang ke rumah. Kembali ia pada dekap angin. Terbang mengikuti arah angin menuntunnya. Menjadi bagian dari mereka yang pulang sebagai benih Dandelion. Mengikuti jejak familiar yang sudah menunggunya sejak 500 tahun silam. Sejak 500 tahun dalam keputusasaan.

Aku pulang, Rostam. Aku pulang, ke dekapmu. Terima kasih, karena sudah menungguku.